“KOPIKU, Mengenal Kopi Nusantara”

KOPI LAMPUNG

Apa Itu Kopi Lampung? Dan Jenisnya

Kopi Sumatra adalah salah satu jenis kopi yang bertekstur paling halus dan Provinsi Lampung menjadi penghasil kopi robusta terbesar dikala ini. Begitu juga tipe kopi yang dihasilkan di Lampung biasanya disebut sebagai Kopi Lampung. Sebagai penggemar kopi juga pasti telah mengetahui tentang salah satu macam kopi legenda yang berasal dari Nusantara. Namun untuk sebagaian masyarakat mungkin belum banyak mengenal tentang Kopi Lampung.

Nama Robusta berasal dari kata Robust yang punya arti kuat. istilah ini memang menandakan kwalitas dan cita rasa kopi robusta yang mempunyai keunggulan pada wangi kopinya yang kuat dan mantab. Apa Itu Kopi Lampung? Dan Jenisnya, Malah pecinta Kopi Lampung sejati menyatakan kalau rasa Kopi Lampung variasi Robusta cenderung berbau coklat.
Dan buktinya bahwa 70 persen dari total hasil panen Kopi di kawasan Provinsi Lampung dipartisipasi oleh perkebunan Kopi Lampung Barat ragam Robusta yang ada di areal Sumber Jaya -Liwa – Sukau – Suoh . Kopi Lampung tipe Robusta yang berasal dari Lampung Barat bermutu terbaik dan yakni komoditi ekspor. Hal ini di karenakan pohon Kopi Lampung tipe Robusta tumbuh pada habitat sebetulnya, ialah ditanam di atas ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di dukung oleh iklim bukit lampung barat yang dingin serta kesuburan tanah yang luar biasa.

KOPI SIDIKALANG

1. Tentang Kopi Sidikalang

Petani Kopi Sidikalang
Petani Kopi Sidikalang | Sumber: http://www.sidikalangcoffee.com

Kopi Sidikalang sudah terkenal akan cita rasanya yang mantap, bahkan bukan hanya di dalam negeri tetapi sampai ke luar negeri. Salah satu pesaing kenikmatan kopi Sidikalang adalah kopi Brazil, yaitu salah satu kopi terbaik di dunia. Sidikalang adalah ibu kota Kabupaten Dairi, terletak di daerah pegunungan nan sejuk.

Menurut para ahli kopi, kekhasan Kopi Sidikalang didapatkan dari kombinasi hawa dingin dan jenis tanah di kawasan Bukit Barisan dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Di Sumatra Utara terdapat tiga daerah penghasil kopi terbaik yaitu Lintongnihuta, Mandailing, dan Sidikalang.

Kopi Sumatra merupakan salah satu varietas kopi yang berasal dari Sumatra yang bertekstur paling halus dan bercita rasa paling berat dan kompleks di antara beragam kopi di dunia. Sebagian besar kopi Sumatra diproses secara kering (dry-processed), tetapi sebagian lagi melalui proses pencucian ringan (semi-washed).

2. Aroma Kopi Sidikalang Tak Lagi Mewangi

Aroma Kopi
Aroma Kopi | Sumber: camedillus.wordpress.com

Kopi Sidikalang sejak dahulu terkenal karena kualitas yang tinggi, seiring waktu saat ini aroma khas kopi itu tidak lagi mewangi seperti dulu. Jumlah petani kopi dari tahun ke tahun menurun karena peralihan dari petani kopi menjadi petani holtikultura, selain itu banyak petani yang beralih menanam jeruk.

Beberapa hal yang mendorong terjadinya hal tersebut adalah sebagai akibat harga jual kopi dari petani kepada tengkulak yang tidak tetap dan cenderung merugikan petani. Dan juga karena faktor hama. Hama tanaman kopi yang menyerang membuat hasil panen petani sangat rendah dan juga mengurangi kualitas dari kopi tersebut. Pengetahuan mengenai budidaya kopi sangat rendah dan jarang dilaksanakannya sosialisasi terhadap petani di kota ini, hal ini menjadikan praktik petani tidak mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi.

Aroma kopi Sidikalang pun saat ini tidak lagi mewangi seperti dulu. Wangi itu perlahan menghilang karena kebun kopi pun perlahan berganti fungsi.

3. Poda Coffee & Resto, Tempat Ngopi Keren di Kota Kopi

Poda Coffee
Poda Coffee | Sumber: http://www.sidikalangpodacoffee.com

Suasana yang begitu nyaman dan tenang adalah sebuah perasaan yang dapat digambarkan saat pertama kali memasuki kedai tersebut. Dengan konsep yang minimalis dan sederhana dilengkapi sebuah meja barista di sudut ruangan untuk menyeduh kopi. Terdapat juga sebuah rak menyediakan beberapa buku untuk dibaca oleh pengunjung. Kedai kopi ini berada di tengah hiruk pikuk kota Sidikalang, tepatnya berlokasi di Jln. Sisingamangaraja No.181. Tempat yang tepat untuk kamu melampiaskan rasa candumu akan kopi dan menikmati sepi yang sejuk disertai udara dingin kota ini. Maupun untuk sekedar bersua dengan teman-teman lama.

Poda Coffee & Resto juga memiliki lahan kopi sendiri dan selain dari ladang sendiri, mereka juga mendampingi para petani mulai dari pembibitan, penanaman sampai pengolahan, dan pemanenan, serta tidak sembarangan menerima produk kopi dari yang lain. Poda Coffee & Resto hadir untuk memberikan kenikmatan bagi anda para pecinta dan penikmat kopi dengan rasa kopi yang original.

4. Kopi Tanpak Sidikalang, Bubuk Kopi Asli yang Telah Melegenda

Kopi Tanpak Sidikalang
Kopi Tanpak Sidikalang | Sumber: kopiaslisidikalang.com

Tanpak Sidikalang, sebuah nama brand dari bubuk kopi Sidikalang milik H. Sabilal Rasyad Maha. Tanpak Sidikalang merupakan salah satu usaha pengolahan kopi yang tidak asing lagi ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Dairi. Pasalnya kopi bubuk asli ini diolah dari gelondongan merah (cherry kopi) dan merupakan pilihan yang berasal dari masyarakat binaan. Sejalan dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi industri maka kopi bubuk Tanpak memiliki program dalam rangka peningkatan mutu kopi bubuk Sidikalang terutama produksi Kopi Bubuk Tanpak Sidikalang.

Ada beberapa program untuk mendukung dan mempertahankan serta meningkatkan mutu tersebut diantaranya adalah kopi Tanpak akan membuka perkebunan kopi tanpa lahan, Tanpak Sidikalang juga akan membeli biji gelondongan merah dengan harga tetap. Tanpak tetap berusaha menghasilkan kopi bubuk yang murni dan memperoleh indikasi geografis tanpa mengandung esensi kopi, kemudian asli tanpa campuran. Hingga saat ini Kopi Tanpak Sidikalang telah melegenda dan tetap eksis di kalangan penikmat kopi, lebihnya lagi kopi tersebut telah dipromosikan untuk menjadi oleh-oleh khas kota Sidikalang.

5. Keindahan Kebun Kopi yang Sejuk dan Sendu

Kebun Kopi
Kebun Kopi | Sumber: majalah.ottencoffee.co.id

Secara geografis letak kota Sidikalang berada di barat laut Provinsi Sumatra Utara dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama 4 jam dari kota Medan. Sidikalang berada pada ketinggian 1.066 mdpl, menjadikan wilayah Sidikalang terdiri dari bukit-bukit dengan kemiringan yang bervariasi dan keadaan lingkungan yang masih alami dan udara yang sejuk serta jumlah penduduk yang masih seimbang dengan luas wilayahnya.

Perkebunan kopi di Sidikalang sangat berpotensi untuk mejadi agrowisata, dengan luas perkebunan kopi robusta sekitar 14.117 Ha dan perkebunan kopi Arabika seluas 5.771 Ha. Agrowisata dan tur kebun kopi sebenarnya layak dikembangkan di kota Sidikalang. Beberapa pecinta kopi telah sering melakukan single origin trip ke Sidikalang sekaligus menikmati keindahan alam. Namun, kebun kopi yang menawarkan keindahan tersebut bagi pencinta kopi, hingga saat ini sangat jarang kita temui yang menyediakan agrowisata kebun kopi sehingga menjadikan kebun kopi yang sejuk itu jadi sendu nan sepi.

KOPI KERINCI

Mengenal Kopi Kerinci, Kopi Terbaik se-Indonesia

Senin, 30 Oktober 2017 20:21 WIB

Mengenal Kopi Kerinci, Kopi Terbaik se-Indonesia

Ilustrasi (ANTARA | ANIS EFIZUDIN)

BACA JUGA:

JAMBI (HN) -Kopi asal Kabupaten Kerinci, Jambi, meraih predikat nasional sebagai “Kopi Terbaik se-Indonesia” dalam Festival Kopi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kopi tersebut terus dipopulerkan oleh Kelompok tani Kopi Alam Kerinci (KAK) yang dibina oleh Yayasan Lahar atas dukungan WWF Indonesia.

Kelompok tani tersebut terdiri dari 13 kelompok yang berasal dari Kecamatan Kayo Aro, Kabupaten Kerinci. Setiap anggota meneken pakta integritas untuk tidak membuka lahan kopi di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat

Kopi Arabika Kerinci hanya dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 700 hingga 1.200 meter dari permukaan laut (MDPL) di daerah Kayu Aro Kabupaten Kerinci.

Selain meraih predikat kopi terbaik se-Indonesia, Kopi Kerinci dengan cita rasa pahit lezat itu juga telah mendapat sertifikat indikasi geografis pada 26 April 2017 dengan nama “Kopi Arabika Sumatera Koerintji” yang diberikan oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, Aidir Amin Daud kepada Bupati Kerinci Adi Rozal.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Georafis (MPIG) Kerinci, Triyono mengatakan bimbingan dari pemerintah selama ini cukup baik dalam membantu petani kopi, salah satunya dengan memberikan alat produksi kopi seperti pengupas kopi dan lainnya.

Kebun kopi Arabika di Kerinci itu ada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat, dan Gunung Tujuh seluas 629 hektare dengan jumlah petani sebanyak 525 KK serta mampu produksi rata-rata 1,3 ton per tahun.

“Namun kendala yang dihadapi yaitu modal karena kopi ini dikirim ke luar negeri,” kata Triyono. Gubernur Jambi Zumi Zola mengatakan pihaknya akan membantu peningkatan produksi kopi Kerinci melalui pendanaan.

“Suatu kebanggaan bersama, kopi Kerinci bisa mengalahkan kopi-kopi yang selama ini sudah mempunyai nama besar, ini bisa dikalahkan dengan keunikan rasa dan keistimewaannya,” kata Zola.

Menurut dia, Pemprov Jambi siap membantu mengatasi kendala pendanaan yang dihadapi para petani kopi di Kabupaten Kerinci itu.

“Saya sudah kontak Bank Pembangunan Daerah Jambi untuk segera membantu, karena secara penilaiannya ini bisa kami bantu agar produksi kopi Kerinci bisa ditingkatkan karena permintaan dari luar negeri cukup banyak,” katanya.

Zola mengungkapkan, untuk permintaan ekspor saja saat ini per kontainernya mencapai 18-19 ton, sehingga membutuhkan dana yang cukup besar.

Selain itu, Zola mengajak seluruh kabupaten/kota di Jambi agar setiap ada agenda nasional atau provinsi seperti Festival Batanghari, Festival Danau Kerinci, dan Festival Candi Muarojambi, selalu menyediakan tempat untuk minum kopi seperti coffee shop, agar kopi Kerinci dapat dikenal lebih luas lagi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi Ariansyah mengatakan Disperindag akan membantu pengembangan hilirisasi kopi Kerinci tersebut.

“Kami akan bantu berupa alat untuk peningkatan penjualan produk berupa hilirisasi produk dengan nilai Rp500 juta, dan dianggarkan pada tahun 2018. Kami akan berupaya membantu pendanaan modalnya juga,” kata Ariansyah.

Sebelumnya Bupati Kerinci Adi Rozal mengatakan Kopi Arabika Kerinci juga beberapa kali meraih juara satu saat mengikuti lomba di Malang dan Surabaya.

“Ada 1.654 hektare lahan Kopi Arabika Kerinci, ternyata memiliki rasa yang khas dan nikmat,” kata Adi Rozal.

Adi mengakui butuh perjuangan mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis untuk Kopi Arabika Kerinci dengan melewati beberapa kriteria, di antaranya memilih biji kopi yang benar-benar masak tanpa tercampur dengan yang masih mentah sehingga menghasilkan rasa yang berbeda dan nikmat.

“Kita tinggalkan cara lama memilih biji kopi dengan mencampurkan mentah dan masak, itu akan mengurangi cita rasa, padahal kualitas kopi kita sudah sangat baik,” ujarnya.

Barter Sukhoi
Imbal Dagang Sukhoi Kopi Arabika Kerinci Provinsi Jambi menjadi salah satu komoditas dari Indonesia yang ikut serta dalam imbal dagang dengan 11 pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia.

Anggota Kelompok Tani Kopi Alam Arabika Kerinci, Suryono membenarkan pihaknya telah dihubungi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) yang menyatakan memilih kopi arabika Kerinci sebagai salah satu produk yang akan dijadikan imbal dagang ke Rusia.

Imbal dagang ini, menurut dia, merupakan dukungan terhadap kelompok tani kopi arabika Kerinci. Suryono bersama 13 kelompok tani lain yang bernaung di bawah organisasi Kopi Alam Kerinci (KAK) semakin bersemangat mengembangkan perkebunan kopi yang organik.

Sebelumnya Pemerintah Indonesia dan Rusia sepakat melakukan imbal beli pengadaan senilai US$ 1,14 miliar dengan barter berbagai komoditas dari Indonesia yang akan diekspor ke Rusia, dan Kopi Kerinci juga ikut andil dalam imbal dagang ini.

KOPI GAYO

Mengapa Kopi Gayo dari Aceh Jadi Kopi Termahal di Dunia?

7 Juni 2018   11:54 Diperbarui: 8 Juni 2018   00:30  7574  11 9

Mengapa Kopi Gayo dari Aceh Jadi Kopi Termahal di Dunia?

Gambar 1, Pesona Kopi Arabika Gayo, menarit minat pembeli dari manca negara untuk langsung mengunjungi kebunnya (Doc. FMT)

Kopi Arabika (Coffea arabica) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi produk ekspor unggulan di Indonesia. Secara spesifik, kemudian komoditi perkebunan ini menjadi komoditi utama dan unggulan di dua kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Luas areal pertanaman kopi arabika di kedua daerah ini mencapai lebih dari 100.000 hektar, dengan produksi per tahun mencapai lebih dari 200.000 ton.

Komoditi perkebunan ini kemudian menjelma menjadi “soko guru” alias penopang utama perekonomian di daerah dengan topografi pegunungan berhawa sejuk ini. Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) terbesar bagi daerah ini dihasilkan produk kopi arabika yang saat ini sudah banyak dikenal oleh konsumen manca negara baik di daratan Eropa, Amerika maupun Asia.

Kopi arabika asal daerah ini yang kemudian dikenal dengan identitas geografis sebagai Kopi Gayo ( Gayo Mountain Coffee) ini, sekarang sudah mampu bersaing dengan kopi arabika yang dihasilkan oleh negara-negara di benua Afrika, Amerika latin (khususnya Bazil) dan beberapa negara Asia seperti Vietnam dan Thailand  di pasar kopi dunia.

Kopi Organik sebagai salah satu keunggulan produk kopi Gayo. 

Pasar kopi baru yaitu specialty coffee merupakan peluang yang harus diraih, dan kopi organik termasuk di dalamnya. Kopi organik merupakan kopi yang diproduksi dengan menganut pada paham pertanian yang berkelanjutan. Dalam budidaya organik aspek-aspek pelestarian sumberdaya alam, keamanan lingkungan dari senyawa senyawa pencemar, keamanan hasil panen bagi kesehatan manusia serta nilai gizinya sangat diperhati-kan. Disamping itu dalam budidaya kopi organik aspek sosial ekonomi juga menjadi perhatian utama.

Jadi, tidak seperti anggapan masyarakat selama ini bahwa kopi organik adalah budidaya kopi tanpa pestisida, pupuk buatan dan tanpa pemeliharaan sama sekali. Justru, pada budidaya kopi organik jauh lebih banyak aspek yang harus diperhatikan.

Kopi organik hanya dapat diproduksi pada kondisi sumberdaya lahan yang tingkat kesuburan tanahnya tinggi, curah hujannya cukup serta daya dukung lingkungannya tinggi.

Pengelolaan tanah mempunyai arti yang sangat penting yang meliputi penyediaan bahan organik yang cukup di dalam tanah dan memanfaatkan mikrobia seperti jamur mikoriza seperti Tricodherma. Mengingat daerah pertanaman kopi arabika umumnya di daerah dataran tinggi dengan topografi berbukit hingga bergunung, maka pengendalian erosi dengan terasering mutlak dilakukan.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman kopi dilakukan dengan mempergunakan sistem pengedalian terpadu dengan mengutamakan pengendalian secara hayati. Jamur Beauveria bassianadapat dipergunakan untuk mengendalikan hama bubuk buah kopi, Trichoderma sp. untuk pengendalian jamur akar kopi. Selain itu ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida botani.

Penanganan pasca panen kopi organik memerlukan kecermatan agar sesuai dengan ketentuan standar mutu biji kopi. Dalam menghasilkan kopi organik yang lebih penting untuk di-perhatikan adalah adanya saling me-nguntungkan antara produsen/petani, pengolah (prosesor) dan pedagang (eksportir).

Dan menurut data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), satu-satunya Provinsi yang telah meng-ekspor kopi organik adalah Aceh ( khususnya Dataran Tinggi Gayo ) . Premium yang diperoleh oleh kopi organik berkisar antara 50 – 70,5 persen, yang merupakan persentasi tertinggi dari seluruh penghasil kopi dunia. Hal ini tentu akan membuat kopi organik yang dihasilan petani Gayo akan semakin dikenal di dunia dan harganya di pasaran dunia akan tetap tinggi. Harapan kita fenomena ini juga akan berdampak kepada peningkatan kesejahteran petani kopi di Dataran Tinggi Gayo ini.

Gambar 2, Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bner Meriah waktu itu, menerima Sertifikat IG Kopi Gayo dari Kemenkumham (Doc. FMT)

Gambar 2, Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bner Meriah waktu itu, menerima Sertifikat IG Kopi Gayo dari Kemenkumham (Doc. FMT)Keunggulan kopi arabika yang berasal dari dataran tinggi Gayo ini sudah mendapat pengakuan dunia dengan dittrimanya sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Gayo pada tanggal 27 Mei 2010 yang lalu. Sementara dalam even Lelang Spesial Kopi Indonesia yang digelar di Bali pada tanggal 10 Oktober 2010, kopi arabika yang berasal dari dataran tinggu Gayo ini dinyatakan sebagai kopi organic terbaik di dunia berdasarkan cupping score yang dilakukan oleh para ahli test cup kopi sedunia.

Pola pertanian organic yang terus dipertahankan dalam budidaya kopi arabika Gayo inilah yang kemudian membawa kopi Gayo menjadi kopi termahal di dunia, bahkan jauh di atas harga di pasar lelang kopi dunia di New York.

Pengakuan kopi arabika Gayo sebagai kopi arabika teraik juga datang dari Specialty Coffee Assosiation of Eorope (SCAE), asosiasi kopi special yang konsen terhadap standar kualitas kopi dunia di daratan Eropa. Ketika Ketua SCAE Collin Smith beserta rombongannya yang berasal dari berbagai negara Eropa mengunjungi dataran tinggi Gayo beberapa tahun yang lalu, mereka menyatakan bahwa masyarakat Eropa sudah lama mengenal dan menikmati kopi arabika Gayo ini.

“Saya sudah 15 tahun membeli dan mengkonsumsi kopi asal pulau Sumatera, khususnya dari dataran tinggi Gayo, aroma dan rasa kopi Gayo ini memang spesifik dan tidak dimiliki oleh kopi dari negara manapun, karena kopi ini benar-benar organik mulai dari proses budidayanya sampai dengan pengolahannya, kami telah membuktikannya sendiri dengan mengunjungi kebun-kebun kopi, proses pengolahan pasca panen sampai ke pabrik pengolahan kopi disini” ungkap Collin waktu itu.

Hal serupa juga diakui oleh Royal Coffee, brand kopi dunia asal Amerika Serikat,  Wakil Presiden (Vice President) Royal Coffee, John Cosette saat berkunjung ke dataran tinggi Gayo tahun 2015 silam mengungkapkan kekagumannya akan kehebatan kopi Arabika Gayo.

“Sudah lama saya bekerja sama dengan eksportir kopi Gayo, bahkan kami adalah agen tunggal distribusi kopi Gayo di Amerika, selama ini kami memang hanya mengenal aroma dan rasa kopi Gayo yang memang special, dan setelah kami mengunjungi daerah ini dan melihat langsung bagaimana kopi ini dibudidayakan oleh petani, kami semakin yakin bahwa kopi Gayo adalah kopi terbaik di dunia” ungkap John.

Pengakuan yang sama juga telah diperoleh oleh kopi Gayo dari Specialty Coffee Association of America (SCAA) yang belum lama ini juga telah melihat langsung proses produksi kopi Gayo mulai dari budidaya, perawatan, pengendalian hama penyakin, panen dan pasca panennya yang kesemuanya mereka akui benar-benar organik.

Gambar 3, Proses penjemuran dan sortasi manual, menjamin keaslian cita rasa kopi Gayo tetap terjaga (Doc. FMT).

Gambar 3, Proses penjemuran dan sortasi manual, menjamin keaslian cita rasa kopi Gayo tetap terjaga (Doc. FMT).

Gambar 3, Proses penjemuran dan sortasi manual, menjamin keaslian cita rasa kopi Gayo tetap terjaga (Doc. FMT).

Gambar 3, Proses penjemuran dan sortasi manual, menjamin keaslian cita rasa kopi Gayo tetap terjaga (Doc. FMT).Apa yang membuat kopi Gayo lebih unggul dari yang lain? 

Pertama, varietas yang ditanam petani kita menghasilkan kopi berkualitas terbaik. Saat ini petani kopi di dataran tinggi Gayo, mayoritas menanam kopi varietas Gayo 1 (G-1) dan Gayo 2 (G-2) dan P-88, ketiga varietas tersebut telah dilepas oleh Kementerian pertanian sebagai varietas unggul kopi di Indonesia.

Kedua, iklim dan jenis tanah di wilayah-wilayah tersebut dengan kondisi tanah berbukit pada ketinggian rata-rata diatas 1000 mdpl, sangat mendukung produksi kopi bercitarasa mantap dan khas.

KOPI LINTONG

Kopi Lintong, salah satu unggulan dari Sumatera

Berkunjung ke Danau Toba, Sumatera Utara, belum lengkap jika belum memadukan keindahan alamnya dengan kenikmatan secangkir kopi Lintong. Setidaknya demikian yang dikatakan Reynold Ando Hasibuan, Manajer Pemasaran Sumatera Lintong ‘Coffee’ kepada Antaranews, Selasa (31/10/2017).

Kopi Lintong yang telah dikemas apik, saat ini menjadi oleh-oleh favorit pilihan para wisatawan yang datang ke Danau Toba. Para petani kopi setempat berharap, dengan menikmati kopi Lintong di daerah masing-masing, para wisatawan teringat pada Danau Toba, dan akan merasakan kerinduan untuk kembali ke sana.

Saat ini, kopi Lintong memang cukup terkenal. Dilansir Kompas.com, kopi arabika lintong, atau biasa disebut kopi lintong, merupakan salah satu dari tiga brand kopi arabika terkenal di dunia yang ditanam di Pulau Sumatera. Kopi lainnya adalah mandheling dan gayo.

Di kalangan pencinta kopi, nama kopi lintong sudah tidak asing lagi. Kopi arabika yang beraroma khas; spicy, herba, rempah serta kacang atau cokelat, ini berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Sejak tahun 1800-an, masyarakat di daerah Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara diyakini sudah mengenal tanaman kopi. Bibitnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditanam dengan cara tanam paksa. Bibit kopi arabika yang tumbuh dengan baik pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut ini pada akhirnya dikenal sebagai kopi lintong.

Namun tidak banyak yang mengetahui secara pasti sejak kapan kopi lintong dibudidayakan di kawasan Bukit Barisan, Lintong Nihuta Humbahas.

Akan tetapi, berdasarkan keterangan beberapa pengelola perkebunan, kopi lintong sudah dikembangkan sejak Kabupaten Humbahas masih merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara. Kabupaten Humbahas merupakan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 2003.

Baru-baru ini Masyarakat Pemerhati Kopi Arabika Sumatera Lintong (Maspekal) mengajukan upaya perlindungan indikasi geografis atas Kopi Arabika Sumatera Lintong kepada Direktorat Merek Ditjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Dikutip dari Bisnis.com, permohonan yang sedang dalam proses pengumuman ke publik 3 Oktober-3 Desember 2017 ini bertujuan untuk memperoleh pengakuan soal keaslian asal-usul produk, sehingga terhindar dari pemalsuan, dan nama lintong terlindung sebagai merek kolektif masyarakat setempat.

Di dalam permohonan bernomor agenda IG.00.2017.000007, tercantum enam kecamatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Humbang Hasundutan, penghasil kopi dengan kualitas yang sangat baik. Keenam kecamatan tersebut adalah Parangginan, Lintongnihuta, Doloksanggul, Pollung, Onanganjang dan Sijamapolang.

Dikutip dari Antaranews, Bupati Humbahas, Dosmar Banjarnahor, mengatakan bahwa sertifikasi ini memang mendesak dilakukan untuk melindungi kopi lintong, terkait rasa dan kualitas, serta petani, pengolah dan pedagang kopi pada masa yang akan datang.

Kualitas kopi lintong yang sudah terkenal di manca negara ini diyakini karena pengaruh kondisi tanah yang subur akibat letusan Gunung Toba sekitar 73.000 tahun lalu. Didukung pula dengan ketinggian wilayah, sekitar 1.000 – 1.000 meter di atas permukan laut.

Sementara, varietas tanaman kopi yang digunakan adalah varietas Sigararutang, Lini S 795, USDA 762, Lasuna dan Garunggang, yang menjadi varietas lokal unggulan.

Sementara itu, menurut Madre Coffee, kopi lintong sudah menembus pasar Eropa dan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari Sumut. Aroma khas kopi lintong menjadi daya tarik di berbagai negara Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan Hong Kong. Begitu juga beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, Rusia dan Amerika.

Isner Manalu, Manajer Proyek Volkopi Indonesia, eksportir kopi, menjelaskan bahwa kopi lintong sudah memiliki spesifikasi khusus bagi para penikmat kopi dunia. Hal ini yang menyebabkan kopi lintong dikelola dengan maksimal di pasar dunia.

Menurutnya, belum pernah ada penolakan dari pasar dunia terhadap kopi lintong, bahkan permintaannya cenderung tinggi.

Kendati sampai saat ini pasar kopi tertinggi masih dipegang oleh kopi gayo, namun kopi lintong sudah memiliki tempat tersendiri di dunia kopi internasional, dan semakin digemari.

KOPI BENGKULU

Nun jauh di Bengkulu, terletaklah Gunung Kaba. Orang-orang menyebutnya surga kopi.

Tingginya sekitar 1.952 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini telah menjadi pusat kegiatan petani Bengkulu sejak pascareformasi.

Kawasan di sekitar Gunung Kaba merupakan lahan pertanian yang subur. Ada dua kabupaten di Bengkulu yang menjadi area pertanian rakyat, yakni Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.

Dengan kontur yang tinggi, tentunya salah satu tanaman yang paling cocok ditanam adalah kopi. Semakin tinggi daerah tanam kopi, alkisah semakin padat pula bijinya. Artinya, kopi tersebut semakin kompleks: menyimpan banyak cita rasa.

Ada juga penelitian yang menyatakan hubungan antara tingkat keasaman kopi dan tinggi/temperatur daerah di mana ia ditanam. Intinya, semakin tinggi dan dingin suatu daerah akan menghasilkan kopi yang semakin baik pula tingkat keasaman dan cita rasanya.

Bengkulu ternyata termasuk lima besar produsen kopi senusantara. Ini fakta yang cukup mengejutkan (walau ini data tahun 2012). Ternyata potensi kopi di provinsi ini begitu besar. Tak heran ia terkenal sebagai provinsi di “segitiga emas robusta”–selain Lampung dan Sumatera Selatan.

Seperti disebutkan sebelumnya, kawasan sekitar Gunung Kaba juga digadang-gadang sebagai “surga kopi”. Beberapa tahun belakangan, beberapa produk kopi menonjol dari daerah ini–baik arabica maupun robusta (juga luwak).

Mari kita lihat dari luasan lahan tanaman kopi. Ternyata memang benar: Bengkulu punya area penanaman kopi hampir sekitar 92 ribu hektar. Hampir seluruhnya berserak di sekitar Gunung Kaba. Yang cari makan dari menanam kopi? Ada hampir 63 ribu kepala keluarga!

Angka-angka ini bisa berarti pentingnya tanaman kopi bagi rakyat Bengkulu.

Lalu jika demikian, apakah cap “surga kopi” ini juga membuat surga bagi para petani kopi tersebut?

bengkulu surga kopi

Bengkulu: surga kopi yang bermasalah

Petani berjejal di lereng Gunung Kaba. Mereka menanam species arabica dan robusta–bahkan gabungan keduanya: “arabusta”. Dari sekitar 800 hingga 1400 mdpl, ragam produk kopi dihasilkan. Dari ibukota hingga nagari, penikmat kopi sudah mencicip produk si surga kopi.

Namun faktanya, surga kopi tak otomatis membuat petani berasa di surga dunia. Malah jauh dari itu.

Rata-rata tingkat produksi robusta ternyata masih tergolong rendah. Hanya sekitar 2 ton per hektar per tahun. Teknologi, cara budidaya yang benar, proses pascapanen, akses pasar, adalah hal-hal yang belum merata dimiliki petani kopi Bengkulu.

Kebanyakan petani kopi Bengkulu tidak pernah menerima penyuluhan atau pelatihan dari luar. Untuk merawat kopi, petani hanya melakukan penyemprotan hama rumput dan pemupukan standar. Sebagian besar yang lain malah tidak melakukan sama sekali.

Sementara hama dan penyakit–mulai dari jamur dan penggerek buah/batang–semuanya awam ditemui di lereng Gunung Kaba. Inilah yang membuat kopi di Bengkulu seperti ketinggalan dari daerah-daerah kopi yang lebih maju di Indonesia.

Jangan bandingkan Bengkulu dengan Gayo misalnya. Jauh panggang dari api!

Praktik sehari-hari petani kopi di Kabupaten Kepahiang misalnya. Mereka menjual hasil panen kopi ke pengepul di tingkat desa atau ke pedagang di ibukota kabupaten tanpa proses pengolahan yang baik.

Para petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong sebagian besar menjual kopi dalam bentuk buah kopi segar: setelah dipetik, langsung jual. Sulitnya lagi, para petani ini masih menjual kopi dalam bentuk petik asalan (tak cuma buah merah segar).

Parahnya lagi, terkadang kadar air beras kopi yang dihasilkan pun masih di atas 20 persen!

Setelah ditilik, hal ini dikarenakan faktor alam. Matahari sering bersinar malu-malu. Sementara, teknologi dan alat pengeringan yang mumpuni belum tersedia.

Hingga bulan April 2015 ini, harga jual buah kopi basah (robusta) petani dihargai Rp 2.700 per kilogramnya. Sementara untuk beras kopi robusta kualitas asalan (kadar air di atas 20 persen) harga per kilogramnya sekitar Rp 18.500.

Dari ilustrasi tersebut, mari kita bayangkan pendapatan petani yang punya rata-rata satu hektar. Jika hanya mampu menjual kopi basah asalan, maka pendapatan maksimal petani kopi robusta di Bengkulu hanya Rp 5,4 juta per tahun–atau Rp 450 ribu per bulan! Mau hidup sejahtera dari kopi jelas sulit.

Belum lagi masalah harga yang tak adil di tangan petani. Rantai dagang yang panjang–bisa hingga 18 titik–terus menghantui praktik perdagangan kopi.

Petani masih tergantung pada pengepul dan tengkulak: ini adalah fakta. Petani butuh pengepul dan tengkulak: ini fakta yang lain. Namun informasi harga pasar hingga end user adalah ihwal alien bagi petani. Ini salah satu kesulitan lain di “surga kopi” Gunung Kaba.

Tapi surga tetaplah surga. Petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong masih tetap semangat. Toh mereka percaya alam memberi apa yang mereka butuhkan. Mereka percaya pada kopi produk andalan mereka. Dan dengan arahan yang benar, akhirnya petani-petani ini bisa melihat secercah harapan untuk penghidupan yang lebih baik.

Mulai dari petani sendiri

Sasmitra dan Djamingin, dua petani muda Bengkulu, bergegas ke Jakarta pada awal bulan Mei 2015.

Dari lereng Gunung Kaba mereka menggeret tas-tas besar berisi kopi arabica dan robusta. Total ada 50 kilogram. Inilah hasil kerja keras mereka setelah hampir satu tahun belajar tentang kopi bersama Serikat Petani Indonesia (SPI).

bengkulu surga kopi 2

Petani Bengkulu sudah mempraktikkan petik buah merah

bengkulu surga kopi 3

Para petani Bengkulu sedang melakukan uji fisik kopi

Dari SPI mereka berkelindan dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka/ICCRI). Mulai budidaya kopi robusta dan arabika hingga proses pascapanen mereka lahap. Kopi hampir setengah kwintal adalah hasil produksi terbaik yang ingin mereka tunjukkan di Jakarta.

Di awal Mei ini ada acara kecil yang menghubungkan petani dan konsumen di Jakarta. Chompagro #4 judulnya. Kali ini, yang dibahas adalah pangan lokal dan kopi Bengkulu. Kesempatan besar bagi Sasmitra dan Djamingin yang mewakili rakyat tani surga kopi Bengkulu.

Di forum bersahaja itu kedua petani belajar tentang pola umum konsumen kopi di Jakarta. “Buset, dalam jarak 100 meter sudah ada 4 kedai kopi di sini!” kata Sasmitra. Itu contoh awal fakta yang membuka mata petani-petani ini.

Contoh lain adalah saat mereka disajikan kopi produksi mereka sendiri. Decak kagum dan bangga menghiasi raut wajah Sasmitra dan Djamingin. “Aih, ternyata kopi kami bisa seenak ini rasanya!” ujar mereka.

Pelajaran berharga ini tak hanya berguna bagi duo petani kopi Bengkulu tersebut.

Pelajaran berharga lebih-lebih lagi sangat berguna bagi 50-an orang yang merapat ke Chompagro #4 pada Minggu (10/5) kemarin. Mayoritas ibu-ibu, ekspatriat dan konsumen urban berdecak kagum mendengar pengalaman produksi di surga kopi Bengkulu.

Ya, di satu sisi Bengkulu adalah surga kopi. Di sisi lain, ada masalah awam pembangunan pedesaan di Indonesia. Harus ada kerja keras. Harus ada organisasi.

Dalam presentasinya, Sasmitra menyenggol masalah tersebut. “Kalau mau kuat, petani kopi harus bersatu,” ujar dia. Saat ini sudah 218 kepala keluarga berkumpul dalam Koperasi Serikat Petani Indonesia.

Bermarkas di Kepahiang, koperasi inilah yang menjadi kaki mereka untuk merambah pasar.

Boleh jadi jalan terbuka. Seperti yang kita tahu, kedai-kedai kopi asli Indonesia sedang menjamur di kota-kota besar. Mungkin kopi Bengkulu belum jadi primadona seperti Gayo atau Jawa. Tapi pasarnya jelas ada.

Lalu bagaimana rasa kopinya?

Apresiasi kopi Bengkulu di Chompagro #4

Lusinan orang berkumpul di meja saji Chompagro #4 di Warung Kopi Sruput, Kemang. Kami mengantre seduhan kopi Bengkulu dari Gunung Kaba, Kepahiang.

Yang keluar pertama adalah seduhan kopi arabica semi-washed. Para penyeduh memutuskan metode french press untuk mengeluarkan cita rasa optimal. (Atau untuk menghemat waktu dan lebih simpel saja, hahaha!)

Seteguk pertama, rasa buah-buahan menerjang rongga mulut. Rasanya cukup juicy dengan aroma segar yang memikat. Ia manis, dengan karakter karamel yang muncul malu-malu kucing. Badan kopi tipis: seduhan ini sepertinya sangat cocok untuk waktu santai kita di Minggu sore.

Kemudian kopi arabica dengan proses full-washed mengambil tempat. Rasa yang lebih dalam mewakili tegukan pertama. Saya mengecap rasa olahan kakao yang agak intens, hampir seperti ramuan coklat dan rempah-rempah. Badan kopi lebih terasa dan seduhan ini bersih–bagai lebih berwibawa. Ini statement: bahwa kopi Bengkulu dengan olahan yang benar, bisa punya cita rasa yang mantap dan cerah seperti ini!

Waduh, tak terasa sudah dua gelas kopi dalam 10 menit. Gawat.

“Untuk kopi arabica Kepahiang, mau tak mau kami harus berterima kasih pada luwak,” kata Djamingin si petani Bengkulu.

Kisahnya ternyata gampang dirunut. Pada era tren kopi luwak beberapa tahun lalu, kopi arabica adalah komoditas utama untuk diumpankan ke kucing kopi.

“Walau kami tak setuju proses kopi luwak yang menyiksa binatang, kopi arabica di daerah kami terjaga stoknya karena tren tersebut,” ujar dia. Saat ini, mereka pelan-pelan mencoba bergeser dari produksi kopi luwak ke arabica saja.

Terakhir, robusta natural process menutup perjalanan cita rasa kami ke Gunung Kaba. Walau badan kopi menjadi andalan robusta Kepahiang, namun seduhan yang mulai mendingin ini juga memunculkan keasaman yang memikat plus kadar kemanisan yang menggoda. Robusta yang unik!

Saya ikut berdecak kagum atas kerja keras dua petani ini mempromosikan kopinya ke Jakarta.

“Harapan kami agar sejahtera bareng-bareng, Mas,” ujar mereka. Di belakang misi kopi Bengkulu di Chompagro #4 ini, berdiri ratusan–bahkan ribuan–petani kopi yang punya harapan sama.

Lalu saya merenung di meja saji. Ini sudah gelas ketiga. Rasa dari surga kopi Bengkulu ini mengetuk hati saya…

Di mana konsumen terdidik?
Di mana perdagangan yang adil?
Di mana pemerintah?

Lalu kopi Bengkulu pun tandas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s